Posts

Showing posts with the label Nasaruddin Umar

Nasaruddin Umar: Kontemplasi Ramadhan (16): Unconditional Lover

Kontemplasi Ramadhan (16) Unconditional Lover Oleh: Nasaruddin Umar   Kualitas cinta ternyata memiliki berbagai tingkatan. Dalam bahasa Arab pun kata "cinta" memiliki tidak kurang dari 14 kosa kata. Di antaranya: Hub, haiam, 'isyq, taulah, khullah, wajd, fana', firam, dll. Satu di antaranya yang sangat penting ialah mahabbah, yang biasa diartikan dengan the saint lover, the sacred love, atau dalam dunia psikologi sering disebut the unconditional love. Begitu kuat cinta itu maka seolah yang mencinta dan yang dicintai menjadi satu. Yang mencinta dan yang dicintai terjadi persamaan secara kualitatif sehingga antara keduanya terjalin keakraban secara aktif.   Cinta itu fluktuatif, kadang naik dan kadang turun. Semua orang berpotensi mencapai puncak kualitas cinta (unconditional love/mahabbah), yaitu cinta yang amat tulus dan pasrah kepada Tuhan. Itu dimungkinkan karena memang semuanya berasal dari Yang Maha Pencinta: Allah Swt. Dari-Nya kita semua berasal dan akan...

Nasaruddin Umar: Kontemplasi Ramadhan (15): Menjadi Selebriti Langit

Kontemplasi Ramadhan (15) Menjadi Selebriti Langit Oleh: Nasaruddin Umar   Setiap orang orang memiliki idola. Namun umumnya yang diidolakan banyak orang ialah 'idola bumi' seperti para selebriti bumi. Amat terbatas di antara kita mengidolakan 'idola langit', yakni para selebriti langit. Selebriti bumi ialah orang-orang yang mencapai puncak prestasi dari segi fisik-biologis, seperti tampan, seniman, dan orang-orang sukses di bangku kuliah atau dunia usaha. Sedangkan selebriti langit ialah orang-orang kelihatannya tidak memiliki banyak kelebihan secara fisik dan materi di bumi namun memiliki kekuatan idealisme yang kuat, terutama idealisme spiritual.   Ada dua faktor yang membuat orang krisis idola. Pertama memang sedang terjadi kekosongan figur-figur idola di dalam masyarakat, yang ditandai dengan sulitnya mencari figur-figur produktif seperti yang pernah lahir di dalam masyarakat. Kedua, sesungguhnya di dalam masyarakat sedang terjadi pembengkakan kualitas sehin...

Nasaruddin Umar: Kontemplasi Ramadhan (14): Diam!

Kontemplasi Ramadhan (14) Diam! Oleh: Nasaruddin Umar   Ada pepatah kuno mengatakan: Diam adalah emas dan bicara adalah perak. Kita bisa setuju atau tidak dengan pepatah ini tetapi yang pasti kita sendiri seringkali menyesal karena terlalu banyak bicara. Kita juga sering bersyukur karena bisa bersikap diam dan mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya. Kita juga sering setuju dengan pernyataan: Kita lebih gampang disuruh bicara ketimbang disuruh diam. Yang pasti mungkin semuanya kita pernah memilih diam sebagai jawaban yang paling tepat.   Nabi Zakariya juga pernah mengalami hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Surah Maryam. Ia sangat berhasrat memiliki anak. Ia tak pernah berhenti berdoa meskipun usianya sudah tua dan isterinya juga demikian. Sebagai wujud tanda syukur dan sekaligus nazar sekiranya ia berhasil dikaruniai anak maka ia akan berpuasa biara selama tiga hari, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: "Zakaria berkata: "Ya Tuhanku,...

Nasaruddin Umar: Kontemplasi Ramadhan (13): Kalian Mau Ke Mana?

Kontemplasi Ramadhan (13) Kalian Mau Ke Mana? Oleh: Nasaruddin Umar   Entah kenapa, Allah SWT tiba-tiba menyentak hambanya dengan sebuah pertanyaan dalam Al-Qur'an: Fa aina tadz habun? (Maka kalian mau kemana?/Q.S. al-Takwir/81:26). Ayat ini sangat menarik untuk dianalisa karena disebutkan di dalam sebuah ayat yang berdiri sendiri, bukan potongan ayat. Ayat ini sesungguhnya mengingatkan kita tentang visi dan misi kehidupan kita, untuk apa kita lahir? Ke mana kita akan pergi? Apa tujuan hidup kita? Bekal apa yang harus disiapkan di dalam menjalani perjalanan hidup ini? Berapa lama kita akan hidup? Apa tanggungjawab di balik kehidupan ini? Terlalu banyak muatan makna pertanyaan Tuhan di dalam ayat pendek tersebut di atas. Ayat tersebut menyentak kita untuk mempertanyakan dan menyadarkan kita di dalam menjalani sisa-sisa perjalanan hidup ini. Sayang sekali ayat ini jarang diperhatikan bahkan jarang dibahas.   Kaedah Tafsir menyatakan manakala sebuah teks berisi pertanyaan...